Sabtu, 28 Mei 2016

Tentang Sebuah I-D-E



Mencari ide itu  gampang-gampang susah.
Gampang kalau mau merenung lebih dalam dan menguasai sebuah bidang.
Susah kalau malas berpikir. :D padahal ide itu bisa didapat dari sisi yang paling dekat dengan kita. 

Mengais ide itu membutuhkan secangkir teh melati, sekerat roti, sering-sering bengong menghadap atas, dan lihat senyum hangat si halal #eh..

Untuk sementara ini hasil mengais ide :
1.       Kesehatan Sistem Reproduksi pada Remaja
2.       Funteacher
3.       Nikah Muda
4.       Panduan New Mom
5.       Fashion for Hijabers
6.       Televisi
7.       Honeymoon
8.       Anak Usia Dini
9.       Best friend for your kiddos
10.   Partner Sehidup Sesurga

Sepuluh ide yang mungkin salah satunya bisa dimudahkan jalan jadi sebuah buku. Aamiin..
Sob, kalian interest yang mana?
Isi di kolom komentar ya.. :)


Salam,
Eliya 'Liya' Tanjung
=====================================================================
#KMO6A_01
#TugasPertemuan2

Rabu, 25 Mei 2016

Hanya Sebuah Pena




Pertanyaan yang agak sulit saya terima ketika mengikuti KMO. Apa alasan untuk nulis? Begitulah, kalau newbie alias pemula yang memulakan sesuatu sekadar iseng-iseng berhadiah. Lalu saya merenung sebentar sambil flashback.

Menurut pendapat coach Tendi, kita mesti meluruskan niat apa tujuan menjadi penulis. Segala hal yang kita lihat dari sosok-sosok penulis papan atas ternyata adalah hanya bonus-bonus. Mari kita lihat sosok Asma Nadia, Tere Liye, Andrea Hirata. Karya mereka sarat makna dan pesan moral. Karya mereka adalah tentang kebaikan. Mari lihat juga karya Charles Darwin, Karl Max, Peter The Venerabel. Karya mereka adalah tentang perubahan (terlepas dari isinya ya).

Benar. Kalau mau tenar langsung jadi artis saja.

Ada beberapa keuntungan secara psikologis ketika menulis. Sebagai Mahmud –Mamah Muda-, yang notabene adalah seorang perempuan (paling hobi ngomong), menulis merupakan bentuk pemuasan hasrat atas ketidakmampuan saya untuk bicara 20.000 kata sehari. Suami kerja, anak sekolah, lantas saya mesti bicara kepada siapa? Maka dengan menulis, lunaslah 20.000 kata sehari (walaupun teori ini masih tanda tanya). Menulis juga sekaligus sebagai ajang refreshing diri. Ketika menulis (terutama fiksi), saya akan dengan murahnya mengunjungi belahan bumi yang tidak bisa saya kunjungi. Mekah? Paris? Sabana Afrika? Bahkan zona konflik Gaza akan dengan mudahnya hadir dalam bentangan mata.

Terlepas dari semua itu, ada keuntungan yang mesti diraih dan dimakmurkan, yaitu keuntungan pada kehidupan yang hakiki. Orientasi akhirat wajib dikedepankan daripada orientasi dunia.  Maka alasan untuk apa menulis bisa kita sandarkan pada sebuah surat cinta dari Sang Mahacinta. Surat cinta pertama dari Allah buat saya (dan seluruh muslim) adalah perintah untuk membaca (saya suka sekali surat ini). Surat ini menggedor kesadaran berpikir akan siapa diri kita, dari mana asal-usul kita, serta eksistensi Tuhan yang serba Maha.

Korelasi ke menulis? Pada surat itu, juga diberitakan bahwa Tuhan mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam (pena). Sudah membaca lalu menulis. Indah sekali, bukan?

Maka sudah selayaknya setiap penulis memiliki sikap bertanggung jawab atas apa yang telah ia tulis.

Sehingga, dapatlah saya tarik benang merah alasan saya menulis tak lain adalah keinginan untuk menyeru ke arah yang lebih baik. Karena saya tak punya harta dan bukan anak raja. Saya juga tak pandai memanah dan tak kuat mengangkat pedang. Saya hanya punya sebuah pena dan pemikiran yang perlu dituangkan. Hanya sebuah pena. Semoga tetap istiqomah.

Dumai, 25 Mei 2016
Best Regards,

Eliya ‘Liya’ Tanjung
--------------------------------------------------------------
#KMO6A_01