Aku adalah perempuan keras kepala yang jarang mau mengerti
pemikiran orang lain.
Aku hanya memikirkan tentang aku, tidak tentang
orang-orang.
Maka itu aku bisa menertawakan sesuatu yang orang lain anggap
adalah sesuatu yang biasa saja. Atau aku akan menganggap sesuatu sangat penting
walaupun menurut orang lain sangat remeh.
Ketika perempuan lain memilih untuk mendengarkan dan
mengikuti pemikiran orang lain, aku tidak. Aku bukan perempuan pembebek. Ah! Intinya
aku ini antimainstream.
Walaupun demikian, sedih juga sih ketika aku menganggap
sesuatu itu berharga, ternyata sama orang lain dianggap amat sangat remeh.
Punya pengalaman sama?
Jadi gini kisahku :
Tahun 2015 merupakan tahun aku produktif menulis. Yang paling
sering itu, ikutan lomba. Yang bukan lomba juga kuikutin. Alhamdulillah, lima
antologi cerpen bersama berhasil kuraih. Puncaknya, aku pernah meraih juara 1
pada sebuah lomba cerpen nasional. Serta masuk 20 cerpen terbaik pada even
Sayembara Cerita Anak tingkat nasional.
Namun, ada saja orang-orang yang –gak tau deh bilangnya
apa-.
Ada yang mencibir, “Oh, antologi bersama, toh. Kirain tunggal.”
*gigit pulpen*
Ada juga yang komen, “Hadiahnya apa? Ha? Enggak ada? Yaah.” *alihkan pembicaraan*
Atau bilang begini, “Kok buku terbitnya mesti dibeli, sih? Bukannya
mestinya gratis? Penipuan itu!” *martil mana martil?*
Nah, yang lucu adalah ketika hadiah juara 1 berupa uang
tunai dan sertifikat. Uang tunai udah sampe ke rekening (bahkan udah abis
dibelanjain), barulah si sertifikat datang bersama pak pos. Lalu ada yang
komen, “Yah, hadiahnya cuma beginian?” hehehe…dia gak tau uangnya udah buat
kipas-kipas *sombong mode on*
Uniknya lagi ketika masuk 20 besar sayembara cerita anak. Aku
urutan 20! Ketika ditanya urutan berapa? Hadiahnya apa? Aku diam aja sambil
kasih piagam penghargaan yang diberikan oleh pihak Kementerian.
Menanggapi orang-orang demikian kita hanya perlu satu jurus,
yaitu diam. Mereka tidak tahu proses yang telah kita jalani. Usaha agar nama
kita tercantum dalam sebuah buku (bahkan untuk sebuah antologi bersama) sangat
tidak mudah. Di luar sana banyak sekali para pemula yang siap bersinar dengan
ide-ide anyar dan brilian, hanya saja yang mereka butuhkan adalah satu
kesempatan untuk menunjukkan pada dunia. Yah paling tidak pada masyarakat Indonesia
lah.
Maka percuma kalau kita jelaskan panjang lebar. Capek badan,
capek pikiran.
Jurus ampuh lainnya adalah, sodorin even lomba, terus
bilang, “Eh, ada lomba nih, ikutan yuk! Sapa tau kamu menang, lho!”
Memang sih, kita gak bisa mengatur orang untuk bicara apa,
berpendapat bagaimana, bertanya apa. Namun sayangnya banyak orang-orang yang
kurang peka hatinya, apakah pernyataannya itu bersifat konstruktif atau
destruktif.
Makanya aku lebih suka memendam semua prestasi dan karya
yang pernah kuraih, untuk kunikmati sendiri. And I don’t care what their said.
Udah gitu aja.
-Liya-
#KampusFiksi
#10DaysKF
#Day6


