Senin, 23 Januari 2017

Enam : Percaya Aja Sama Dirimu!

~Direndahkan? berarti kita sedang tinggi. Diomong dari belakang? Berarti kita sedang di depan~



Aku adalah perempuan keras kepala yang jarang mau mengerti pemikiran orang lain. 
Aku hanya memikirkan tentang aku, tidak tentang orang-orang. 
Maka itu aku bisa menertawakan sesuatu yang orang lain anggap adalah sesuatu yang biasa saja. Atau aku akan menganggap sesuatu sangat penting walaupun menurut orang lain sangat remeh.
 Ketika perempuan lain memilih untuk mendengarkan dan mengikuti pemikiran orang lain, aku tidak. Aku bukan perempuan pembebek. Ah! Intinya aku ini antimainstream.

Walaupun demikian, sedih juga sih ketika aku menganggap sesuatu itu berharga, ternyata sama orang lain dianggap amat sangat remeh.

Punya pengalaman sama?

Jadi gini kisahku :

Tahun 2015 merupakan tahun aku produktif menulis. Yang paling sering itu, ikutan lomba. Yang bukan lomba juga kuikutin. Alhamdulillah, lima antologi cerpen bersama berhasil kuraih. Puncaknya, aku pernah meraih juara 1 pada sebuah lomba cerpen nasional. Serta masuk 20 cerpen terbaik pada even Sayembara Cerita Anak tingkat nasional.

Namun, ada saja orang-orang yang –gak tau deh bilangnya apa-.

Ada yang mencibir, “Oh, antologi bersama, toh. Kirain tunggal.” *gigit pulpen*
Ada juga yang komen, “Hadiahnya apa? Ha? Enggak ada? Yaah.”  *alihkan pembicaraan*
Atau bilang begini, “Kok buku terbitnya mesti dibeli, sih? Bukannya mestinya gratis? Penipuan itu!” *martil mana martil?*

Nah, yang lucu adalah ketika hadiah juara 1 berupa uang tunai dan sertifikat. Uang tunai udah sampe ke rekening (bahkan udah abis dibelanjain), barulah si sertifikat datang bersama pak pos. Lalu ada yang komen, “Yah, hadiahnya cuma beginian?” hehehe…dia gak tau uangnya udah buat kipas-kipas *sombong mode on*

Uniknya lagi ketika masuk 20 besar sayembara cerita anak. Aku urutan 20! Ketika ditanya urutan berapa? Hadiahnya apa? Aku diam aja sambil kasih piagam penghargaan yang diberikan oleh pihak Kementerian.

Menanggapi orang-orang demikian kita hanya perlu satu jurus, yaitu diam. Mereka tidak tahu proses yang telah kita jalani. Usaha agar nama kita tercantum dalam sebuah buku (bahkan untuk sebuah antologi bersama) sangat tidak mudah. Di luar sana banyak sekali para pemula yang siap bersinar dengan ide-ide anyar dan brilian, hanya saja yang mereka butuhkan adalah satu kesempatan untuk menunjukkan pada dunia. Yah paling tidak pada masyarakat Indonesia lah.
Maka percuma kalau kita jelaskan panjang lebar. Capek badan, capek pikiran.

Jurus ampuh lainnya adalah, sodorin even lomba, terus bilang, “Eh, ada lomba nih, ikutan yuk! Sapa tau kamu menang, lho!”

Memang sih, kita gak bisa mengatur orang untuk bicara apa, berpendapat bagaimana, bertanya apa. Namun sayangnya banyak orang-orang yang kurang peka hatinya, apakah pernyataannya itu bersifat konstruktif atau destruktif.

Makanya aku lebih suka memendam semua prestasi dan karya yang pernah kuraih, untuk kunikmati sendiri. And I don’t care what their said.
Udah gitu aja.

-Liya-

#KampusFiksi
#10DaysKF
#Day6

Minggu, 22 Januari 2017

Lima : Saatnya Duduk Manis Sambil Makan POpcorn




 ~It’s movie time!~

Syukurlah, akhirnya kita ngomongin hal yang tidak bikin baper.
Aku suka banget nonton. Tapi hanya beberapa film aja yang kutonton di bioskop. 
Why? Menurutku, tidak semua film yang diekspos ke bioskop adalah film-film bernas. 
Jadi memang mesti memilih dengan bijak. Itu dari sisi kualitas film. Sisi lain adalah jenis filmnya. 
Kalau film yang penuh efek animasi biasanya aku akan nonton di bioskop kalau bisa pake 3D. Supaya efeknya itu terasa sampe ke ujung kaki. Hehe…

Dan aku adalah penikmat segala jenis film. Tapi,… tetap memilih. Korea? Oke! Tapi korea yang tidak melulu mengusung cinta si kaya dan si miskin (lalu para pencinta film Korea protes dengan alasan semua film Korea itu bagus). Oh! Come on! Aku kurang mahir membedakan si anu dan si inu (maksudnya para aktornya dan aku gak pernah hapal nama mereka, sumpah!)
Thailand juga asik dengan humornya yang seger banget. Prancis, Jerman, Jepang, ayok mari kita embat.

Aku udah kayak komentator film belom sih? (keliatan sotoy iya!)

Dari semua film yang pernah kutonton, ada beberapa yang berhasil menorehkan semacam kesan dalam jiwa –apa ini?-
Cek tiga film pilihanku ini ya, guys! Siapa tahu bisa jadi referensi malam minggu bagi para jomblo *eh.
 




The Boy in the Striped Pajamas
Ini film berhasil mengoyak-koyak insting keibuan aku. Sumpah aku nangis bombay plus histeris nonton ini. Suasana kengerian Holocaust-nya terasa banget. Film ini, berapa kali pun ditonton, tetap aja aku nangis.
Dan luar biasanya, film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama, karya John Boyne. Bener-bener bisa belajar banyak dari film ini.
Film ini dibintangi Asa Butterflied waktu masih kecil. Sekarang dia udah gede –dan ganteng.
Kita diajak untuk menilik sisi lain dari Holocaust yang menyeramkan itu. Walaupun endingnya bisa ketebak, tapi alurnya bikin kita anteng aja duduk nontonnya.
Apakah aku terdengar spoiler? Semoga tidak ya. Film ini rekomendit banget buat yang suka film nuansa menegangkan gitu. Sip? Next!



Spirited Away
Kartun Jepang satu ini sama sekali bukan kartun biasa. Di awal aja bisa bikin penonton jantungan dan lupa napas! Ternyata memang kartun ini adalah kartun sarat prestasi. Percaya ga? Film ini meraih Penghargaan Oscar tahun 2002 pada kategori Film Animasi Terbaik sekaligus menjadi anime pertama yang dapatin penghargaan itu. Keren kan!
Tokoh-tokoh imajinernya terasa real banget dan mereka bukan cuma tokoh tempelan. Karena semua tokoh memiliki peran penting pada jalan cerita.
Awalnya, aku ditawarin temen. Karena kartun aku emoh. Eh, pas ditonton, alamak! Gak mau berhenti sampe habis! Hehe…
Film ini juga sarat akan pesan moral kehidupan. Bahwa kita harus sayang orangtua, pantang menyerah, bekerja dengan semangat yang terbaik, tidak takut tantangan, tidak mengambil hak orang lain, wah banyak deh!
Coba ditonton ya!
Clue : jangan liat sinopsis di Wikipedia, serius, spoiler banget!



Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Waktu film ini mau rilis, aku seneng banget. Jelek-jelek gini aku penikmat karya sastra jaman doeloe. Novel itu udah khatam kubaca waktu SMP.
Yang istimewa sebenarnya bukan filmnya sih, tapi cerita yang mengiringi hidupku dan masku. *eaak
Ceritanya, aku dan suami menikah tidak seperti orang kebanyakan yang memilih untuk mengenal satu sama lain dalam jangka waktu beberapa tahun (baca : pacaran). Jadi aku sama sekali tidak tahu apa kegemarannya, pokoknya blank!
Sampai pada suatu hari di tahun ke delapan pernikahan kami, aku mengajak masku untuk nonton film ini di bioskop. Elahdalah, kok dia hapal banget jalan ceritanya. Dan di situlah aku tahu, bahwa si ganteng ini ternyata penikmat sastra lama juga. Aduhai! Delapan tahun nikah baru tahu. Kemana aja? Hihihi…
Syukurnya, kemudian, ada seorang temen yang punya file film ini. Singkat kata, nontonlah kami di laptop. Dan kami nangis bareng, padahal baru adegan awal. Gak kuat Hayati, Bang!
Baru ini lihat lelaki nonton film sambil nangis. Anugrah banget dapetin masku ini :)

Okeh! Masih banyak sih film-film yang gak kalah bagus. Well, permintaan mimin cuma tiga aja.
Thanks for reading!
-Liya-

#KampusFiksi
#10DaysKF
#Day5

Sabtu, 21 Januari 2017

Empat : Ketika Akhirnya Mata Kita Beradu



~Dia yang Namanya Terpahat dalam Hati~

Tadi pagi baca cuitan unik. Katanya, kalau kita sudah berumur di atas 16 tahun, maka 60% kemungkinan kita sudah bertemu seseorang yang akan jadi pendamping kita. Mmm, menarik.

Aku sudah bertemu dengan beberapa orang hebat (walaupun bukan orang terkenal) dan orang-orang yang telah membuatku hebat. Dalam artian, mereka telah mengajakku ke  arah yang jauh lebih baik dari berbagai sisi kehidupan.

Di antara mereka yang luar biasa itu, ada satu orang yang sangat berarti buatku. Baiklah, karena tidak boleh menyebut nama, mari kita rahasiakan ia.

Pertama aku bertemu dengannya belasan tahun lalu, well, tidak terlalu menarik. Ia adalah seorang penjaga wartel yang cuek. Seorang yang sangat irit kata. Tidak pernah memandang mata dengan mata. Ia selalu menunduk atau melihat ke  arah lain.

Ia ternyata seorang yang menguasai bidang akuntansi, sebuah bidang yang pada waktu itu sedang kutekuni (walau akhirnya tidak berhasil). Dari sebuah obrolan ringan tentang hal remeh macam buku kas, buku ini, buku itu, segala macam buku yang ada di akuntansi, akhirnya kami mulai dekat. Dekat dalam arti kata sebagai abang-adik begitu lah.

Lama-lama, diskusi kami makin meningkat (minta tolong ngerjain tugas sebenarnya). Di situ aku tahu kalau jenis laki-laki ini sudah mulai langka di dunia. Masuklah namanya pada urutan nama-nama orang yang mungkin jadi pendamping hidup.

Dan, suatu hari. Datanglah tiga orang utusan. Menjumpai orangtuaku, lalu mengutarakan maksud dan tujuan mereka.
Maukah menikah dengan dia?

Mata bisa memilih kepada siapa ia ingin menatap. Tapi cinta, tidak bisa memilih di hati siapa ia akan singgah.

-Liya-

#KampusFiksi
#10DaysKF
#Empat

Jumat, 20 Januari 2017

Tiga : Sebuah Kata Ajaib, 'Resolusi'



~Langit Menampung Doa-doa~

Resolusi. 
Sebuah kata yang mendadak populer di pagi pertama bulan Januari. 
Kemudian kata itu menjadi sangat jarang diucapkan pada akhir Januari.
Lalu pada akhirnya, kata itu akan terucap kembali di tahun berikutnya, tapi dengan intonasi suara yang sudah tidak terlalu bersemangat. 
Alasannya, mencoba realistis.

Aku termasuk orang yang rajin bikin resolusi. 
Ada beberapa poin di sepanjang tahun di mana aku selalu bikin resolusi atau sekadar pengingat resolusi itu sendiri. 
Tahun baru masehi, tahun baru hijriyah, Ramadhan, Syawal. Banyak, kan?
Lalu bagaimana nasib si resolusi itu? Kebanyakan dari mereka harus berakhir di tong sampah alias terbengkalai dan tidak terurus sehingga hanya akan menuh-menuhin pikiran. 
Namun, ada juga yang terealisasi, walaupun aku lupa apa itu yang terealisasi.

Setelah dipikir-pikir, bahkan sebenarnya tidak sampai lima biji, lho. Tiga aja cukup kali ya. Itu tadi alasannya, mencoba untuk realistis.
Kemudian aku teringat kata mutiara dari Arai, tokoh dalam novel Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata, yang melecut untuk senantiasa bermimpi. Jangan takut untuk bermimpi.

So, ini dia lima keinginanku :

Aku ingin sehat
Oke, walaupun aku terlalu segan untuk menceritakan riwayat kesehatanku yang tidak sehat, pokoknya bagi yang membaca, harap diaminkan aja ya. Aamiin.

Pingin nambah hafalan Quran juga
Nah, ini nih, resolusiku yang udah dari kapan tau. Dengan banyaknya kesibukan (sok sibuk) dan remeh temeh lainnya. Keinginanku ini kurang terkondisi. Mungkin ada yang bisa kasih tips and trick supaya berhasil. Sejauh ini sedang menempuh Juz 29 tujuh suroh lagi. Semangaat!

Pingin selesai kuliah
Siapa yang sama, cuuung! Bete juga ditanya kapan wisudanya. Lagi proses, Mbak. Prosesnya itu panjang dan tidak sederhana, lho.

Pingin ambil kelas Bahasa Inggris untuk IELTS sekaligus belajar Siroh Nabawi
Ceritanya, tertarik banget untuk bisa kuliah S-2 di luar negeri. Jadi ya mesti mempersiapkan diri untuk itu, kan? Ditambah lagi seru kayaknya kalo bisa ikut belajar Siroh Nabi. Pengetahuanku cetek banget, kalah sama anakku yang sulung. 

Punya satu buku
Terakhir nih. Tahun lalu aku punya ikrar untuk ‘melahirkan’ buku di tahun 2017. Entahlah, ini bakalan terjadi atau enggak. Mengingat dan menimbang, kemampuan menulis juga mesti dikembangkan lagi dan proses yang menyertainya tidak serta merta sederhana. Walaupun mungkin bukan di tahun 2017, semoga di tahun yang lain. Aamiin.

Semoga yang mengaminkan juga mendapat kebaikan dari harapan-harapannya. Aamiin.
-Liya-

#KampusFiksi
#10DaysKF
#Tiga