Kamis, 25 Januari 2018

CLODI, popok kekinian

                           (source : http://clodibabyland.com/wp-content/uploads/2013/02/Babyland-Bamboo-6.jpg)
Ah! Sebenarnya ini benda lama. Jauh sebelum saya hamil anak keempat malah (btw, my Azka anak kelima, lho). Tapi ya, masih banyak ibu-ibu yang katanya kekinian belum tau tentang ini.
Clodi, singkatan dari Clothes Diaper. Secara awam dimaknai popok yang dapat dicuci ulang. 
Bukan seperti lampin umumnya yang hanya sekali pakai. Clodi terbuat dari bahan kain yang lembut di bagian dalam. Serta bahan waterproof di bagian luar. Pada beberapa merk yang ada, motif yang ditawarkan sangat menggoda. Ada yang girly banget. Ada yang cool banget buat anak lanang.

Saya kenal clodi dari adik saya. Ia membelikan anaknya clodi dengan berbagai merk. Lucu-lucu sih memang. Waktu itu, saya tanya harganya, I almost drop my jaw! Mihil! Kata saya. Tapi dalam hati aja. Hahaha. Untungnya waktu itu, anak-anak udah pada gede. Dan tidak butuh clodi.

Tapi akhirnya, waktu membawa saya pada sebuah kondisi, dimana saya dipercaya untuk menggendong bayi lagi. Awesome!

Nah, di sini saya mulai melirik clodi.

Sebagai Cah Biologi yang cakupan keilmuannya seputar lingkungan hidup (eak), saya merasa resah dengan pertambahan sampah terutama sampah popok sekali pakai. Buanyak.

Di sisi kesehatan, ternyata banyak juga popok sekali banyak yang menggunakan material hasil daur ulang yang pada prosesnya bersentuhan dengan bahan kimia. Ngeri kalau buat bayi.

Awalnya, saya cek ricek harga. Membandingkan satu toko ke toko yang lain. Secara online tentunya. Sampai saya terdampar pada market place terpercaya. Di situ saya cari clodi yang termurah dengan merk yang jadi inceran saya. Hehehe. Beberapa kali sampai puas dapet harga murah bingit.

Bener sih, sekali beli agak ngerogoh kantong lumayan dalam. Tapi setelah dihitung-hitung, ternyata jauh lebih murah. Ini yang penting. Hahaha.

Hitung yuk. Siapin kalkulator yah. Kita hitung dulu popok sekali pakai.
Misalkan satu popok harganya Rp 2.000. Dalam satu hari misalnya pakai empat buah. Maka, satu hari Rp 8.000. Untuk pemakaian 30hari berarti Rp 240.000. Setahun? Berapa tuh? Kalkulator! Hehehe. Okeh! Rp 2.880.000. Lumayan yak.

Nah sekarang coba kita hitung harga clodinya.

Misalkan satu clodi harganya Rp 60.000. Beli 5 jadi Rp 300.000. Bisa dipakai tahunan. Bahkan bisa ‘diwariskan’ kalau punya adik. Tinggal beli insertnya kurang lebih Rp 10.000-an atau bagian luarnya sekitar Rp 30.000-an.

Kalau hobi ‘mentelengi’ hape pasti dapet deh olshop yang jual secara grosir. Makin banyak, makin murah, cuy. Ternyata, mahal atau murah itu relatif ya.

Ah, tapi kan kalau beli clodi mesti sekaligus uangnya. Kalau popok sekali pakai kan bisa cicil cicil.

Nah. Kembali lagi tentang permasalahan sampah. Clodi tidak meninggalkan jejak sampah. Jadi secara otomatis mengurangi jumlah sampah rumah tangga. Kecuali Anda adalah orang yang biasa aja dengan masalah sampah ini.

Satu lagi. Pernah enggak sih, lihat pemulung atau tukang sampah yang ‘menderita’ karena melihat pempes yang berisi ‘sesuatu’ itu? Kasihan kan?

Bagaimana dengan alergi? Kalau ini sih tergantung bayinya ya. My Azka lumayan sensitif kalau pakai popok sekali pakai. Jadi pakai clodi ini dia nyaman (kayaknya ^_^). Karena tidak ada tanda ruam popok setelah penggunaan.

Kekurangan clodi apa? Ya mesti nyuci. Habis ee’ atau pipis ya dicuci. Namanya juga ‘cuci ulang’. Terus lagi kalau pas musim hujan, mesti nyetok clodi yang agak banyak. But don’t worry. Clodi tu cepat kering loh. Insertnya yang agak lama. Jadi insert ini kalau bisa ya agak banyak lah. Apa lagi? Kalau lagi bepergian yang relatif lama diperjalanan. Karena clodi cenderung bocor setelah lama digunakan. Yah namanya juga kain. Bukan gel seperti di dalam pempes.

Saya pun sesekali pakai popok sekali pakai. Itu pun nyari yang lagi diskon. Hehehe (pelit banget sih ni orang). Tapi ya untuk kondisi darurat aja. Contohnya nih, di daerah saya lagi musim hujan. Lama kering deh. Yah sudahlah.

Untuk merk, saya suka pakai Babyland (enggak ngiklan yak, hiihiihi) innernya lembut banget, motifnya keren, ukurannya bisa disesuaikan terutama untuk anak yang body-nya ndut. Insertnya kadang saya pakai tanpa cover, langsung pakai celana aja. Eh tapi ini trik ini hanya untuk bayi belum jalan yah. Hehehe.

Akhirnya, baik popok sekali pakai maupun popok cuci ulang, pastikan pemakaiannya tidak lebih dari empat jam. Ganti kalau sudah penuh ya, Mom. (ngirit juga ada batasnya...hehe)

Oke, semoga bisa jadi bahan referensi buat para Mahmud a.k.a Mamah Muda. Kalau bunda-bunda suka merk apa? Jawab dikomentar yes.

~salam dari Azka
Eits, marketplace-nya apa? Saya fall in love sama Shopee. 
Cekricek clodi klik di sini

Kamis, 23 November 2017

Mbip : Lumba-lumba Bukan Ikan



Khalif alias Mbip, anak saya yang sulung, bisa baca (terbata-bata) sebelum lima tahun. Termasuk cepat di antara teman-temannya. Teman saya bilang penyebabnya adalah guru TK Khalif adalah bundanya sendiri. Hehehe. Bisa jadi.

Sebelum itu, karena masih anak satu, maka dialah sahabat saya 24 jam. Kami biasa bercerita tentang apa saja. Tentang bekicot yang selalu membawa rumahnya, atau tentang uang koin yang secara tidak sengaja tersangkut di tenggorokan Khalif. Aktifitas rutin kami sebelum tidur adalah mendongeng. Kadang cerita nusantara, cerita rakyat dari luar negeri, atau cerita yang saya karang sendiri. Hehehe.

Ketika Khalif punya adik kembar, bercerita sempat diambil alih abinya. Walaupun jarang, saya sesekali sempatkan untuk bercerita. Namun kala itu, materi cerita berubah jadi diskusi tentang hari itu. Main sama siapa? Main apa? Senang tidak? Semacam itulah. Ternyata tidak kalah seru.

Karena kehabisan ide cerita, saya belikan dia buku anak. Kesukaannya adalah buku tentang lumba-lumba yang masih ada sampai sekarang. Dari situ dia belajar baca sendiri. Dari situ juga dia tau kalau lumba-lumba bukan ikan. Dia ikut sedih waktu lihat foto hewan itu dalam air yang tercemar ^_^

Selanjutnya, seiring bertambah umur, semua buku dilahapnya.  Sama dengan saya, bundanya.
Buku kedua favoritnya tentang bedah forensik yang tersaji dalam bentuk kartun. Ada? Iya ada. Buku ini saya beli ketika Gramedia menggelar bazar buku (dapat di bagian buku serba limaribu). Buku inilah yang menginspirasinya bercita-cita menjadi dokter forensik. Hiyaa!

Menjelang ia dewasa, sebagian ‘buah’ sudah saya panen. Khalif tumbuh menjadi anak yang serba ingin tahu. Alhamdulillah, kognitifnya di atas rata-rata. Tetapi tetap saja saya tidak berorientasi kepada nilai. Saya tidak pernah menanyakan nilainya. Saya cuma tanya, senang tidak sama pelajaran itu? Kenapa senang? #maafkeun.

Kemudian, ia tumbuh menjadi anak yang terbuka (terutama kepada saya). Cita-cita  bundanya untuk menjadi tempat curhat anak saya mungkin sudah tercapai. Ia dengan leluasa bertanya tentang apa saja.

Kenapa harus saya ceritakan tentang ini?

Banyak orangtua ingin sekali anaknya pintar membaca di usia dini. Dikirimlah anak-anak ini ke sekolah TK dan sejenisnya dengan target, bisa baca ketika lulus. Salah? Tentu tidak jika prosesnya benar.

Konon, di negeri luar sana, mereka lebih takut anak-anak tidak pandai mengantri daripada tidak pandai membaca. Oh why? Karena belajar membaca sekarang sudah sangat mudah dengan segala aplikasi, game, gadget, dan sebagainya. Tetapi untuk membentuk pemahaman perlu waktu yang tidak sebentar.

Contoh paling konkrit : DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI. Papan pengumuman itu berdiri di tengah lautan sampah yang kian hari kian menggunung. Apa mereka tidak bisa baca? Bisa kan?

Di sisi lain, orangtua itu malah tidak suka membaca. Bagaimana mungkin kita menyuruh anak melakukan sesuatu yang tidak pernah kita contohkan? Anak disuruh cepat baca, orangtua malas baca. 

Nah, bagi yang memiliki anak yang masih di bawah usia remaja, ada baiknya memulai kebiasaan membaca terutama bercerita sebelum tidur. Agar terjadi bonding alias ikatan psikis antara orangtua dan anak.
Belikan mereka buku-buku bergizi. Karena tidak semua yang ada di internet itu benar.

Nah, Khalif kemarin curhat. Bahwa ada dongeng yang sangat berkesan buatnya. Yaitu cerita tentang lelaki dan terompet ajaib. Judul aslinya saya nggak tau. Ada Hamelyn hamelyn-nya gitu. Ia bahkan masih ingat cara saya menceritakannya. Hebat euy! sangking berkesannya, ia masih ingat.

Oiya, hobi membaca sukses di rumah saya karena saya tidak punya tivi. Catat : tidak punya tivi. Untuk yang ini, akan saya ceritakan lagi besok-besok.

Tinggalkan komen berupa sharing atau tips lain yang bisa menambah semangat anak membaca, ya.

Thanks for reading. *BTW, jadi lumba-lumba itu apa dong? hayooo....

Sabtu, 11 November 2017

YoSh!



Lama juga blog ini gak di-update. Daripada berlaba-laba dan banyak kecoak, mendingan diisi tulisan apa gitu ya. Biar agak aktif dikit lah.

Nah, jadi gini ceritanya. Setelah melahirkan my cimut Azka Arbina, alhamdulillah, aktifitas yang paling menyita waktu adalah menyusui. The greatest job in the world is breast feeding. Hahaha. 

Menyusui dengan harapan si baby tidur, tapi bonus emaknya yang ketiduran. Kan, asik asik jos!
Menurut info yang beredar (terlepas itu hoax atau tidak), sinyal ponsel tidak baik buat bayi. Jadi ngapain dong sambil nunggu si nyonya itu tidur? Membaca! Bener. Saya jadi banyak baca. Sambil tiduran, sambil baca. Sedep.

Kebetulan, ada seorang dermawan yang nyumbang buku dari perpustakaannya. Ya, kamu enggak salah baca. Buku dari perpustakaannya. Banyak dong? Banget! Tapi berebutan sama tetangga. Hihihi.

Ada buku menarik yang dulu males kubeli. Judulnya The Naked Traveler. Yang belum baca pasti langsung pirni tu baca kata naked. Iye, aye dulu juga gitu. Hehehe.

Sayang, serinya nggak lengkap. Saya baca langsung ke buku 2. Elahdalah. Ternyata eh ternyata, asik banget itu buku. Buku tebal yang asik dibaca adalah harta karun, sodara-sodara! Jadilah asal lagi menyusui, eikeh sambilan baca buku ketje badai itu. 

Oh! Saya kudet. Buku itu udah beredar dari tahun 2010. Itu lah akibatnya kalau gahul Anda selalu di warung mie instan. Jarang ke toko buku, jadinya enggak tau soal buku keren ini.

Buku ini awalnya dari blog traveling-nya Mbak Trinity (lagi SKSD ceritanya). Terus dibuat buku sampe tujuh seri. Waks! Sebelas duabelas sama Harry Potter yak. 

Denger-denger, banyak sekali yang terinspirasi dan memutuskan untuk melakukan hal yang sama dengan si Mbak Trinity ini, yaitu traveling. Saya? Enggak (pasang muka datar). Saya cukup puas dengan ulasan si Mbak. Negara ini, negara itu. Daerah ini, daerah itu. bukan bermaksud merendahkan. Justru ini adalah bentuk kekaguman. Betapa saya sangat menikmati cara beliau menulis. Sampai-sampai rasanya saya ada di Palau. Iya Palau, bukan pulau.

Habis buku 2, lanjut ke buku 4, cus ke buku 7 yang salah satu babnya bikin mata eikeh berkaca-kaca.
Intinya? Gue kudet. Udah gitu aja. Terus masih terus memimpikan untuk traveling. Yee, katanya enggak mau. Kalau dibayarin, ya mau lah. Huh! Mental gratisan.

Baca apa lagi?
Mmm, ada buku Harry Potter. Kalau yang ini, walaupun udah pernah baca, tetep aja masih bisa muncul lagi rasa deg-degan. Terus? Kepikiran laporan praktikum biologi, jadi baca modul kuliah lagi. Yaah! Gak apa-apa lah, kangen juga suasana ujian. Yang mana hal demikian sudah tidak saya rasakan lagi.
Baca apa lagi?
Izinkan saya membaca kamu. Membaca wajahmu. #eaaak.*

Angka Kembar yang Penuh Diskon



Mak tau ini hari apa? Yes! Bener. Hari Belanja Online Nasional. Jadi, Mak belanja apa tadi? Kalap gak?

Siang tadi, saya jalan-jalan ke beberapa toko online. Sempat mangap juga di satu dua etalase yang menawarkan harga terjun bebas. Waks! 

Seorang teman mupeng banget sama tas branded ori yang harganya tinggal beberapa puluh ribu aja. Sepatu juga, OmyGod. 

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu, saya diajakin fitness sama teman sejawat. Nah, butuh sepatu dung. Iyes. Mampirlah saya di sebuah toko pada market place yang terkenal harganya miring plus gratis ongkir. Sambil ngelap ences gara-gara lihat harga yang sedemikian rendah. Hehehe..

Pilih satu dua, lalu saya berpikir. Saya ini, butuh atau ingin, sepatu ini? Butuh sih, tapi gak butuh-butuh amat. Dilema, mak. Antara kepingin punya body tsakep sama males ke fitnessnya. Takutnya nanti malah mandeg dan si sepatu jadi gak kepake. Kan sayang. (Sayang apa pelit?)

Ada sebuah kata-kata mutiara yang eikeh lupa siapa yang menorehkan pertama kali. Begini bunyinya, jika suatu barang nunggu diskon dulu baru dibeli, berarti barang itu gak terlalu dibutuhkan.
Nah lho, betapa ternyata kita sering terjebak pada kata-kata sihir; diskon, sale, cuci gudang, dan sebagainya. Terutama kaum cewek niy. Alasan klasiknya adalah mumpung lagi diskon. Well, kata seorang ahli ekonomi yang saya juga tidak ingat namanya, tindakan demikian justru merupakan pemborosan. Titik. Saya jadinya nurut aja deh. 

Tapi tadi teuteup aja pelototin hape untuk nyari benda-benda yang dibutuhkan dengan sale gede plus ongkir. Misalnya, clody, baju bayi (anak eikeh udah gede ternyata), buku. Oke sip, benda terakhir ini sempat bikin saya kalang kabut tahun lalu pada even yang sama. 

Tahun lalu, pas lagi nge-Grab bareng anak-anak ABG, kita heboh gara-gara lihat harga buku Bang Tere Liye dibanderol gak sampe dua puluh ribu, sodara-sodara! Itu server sampe nge-down sangking banyaknya yang order. Dapat? Enggak! Lha, servernya nge-down gitu. Semoga bulan Desember ada lagi yak diskon bukunya. Emangnya mau beli? Belum tentu juga sih, cuci mata aja. Wkwkwk....

Saya heran aja gitu sama sistem jualan begitu. Harganya sadis banget, apa mereka gak rugi ya? Belum lagi kalau pake plus gratis ongkir.
Oke sip, ya udahlah, itu bukan ranah saya untuk memikirkannya.

Pernah kecewa beli online? Pernah. Sekali. Beli apa? Sepatu. Kenapa? Sepatunya KW 12 dengan jahitan palsu yang cuma dilem. Saya kasih ke keponakan yang kakinya hampir sama ukurannya. Lah dalah baru berapa kali pake, udah wassalam. 

Bener sih, quote yang bilang, kalau harganya murah, harus ada sesuatu lebih yang harus kita bayar.

Mmm, kayaknya kedua quote yang saya pake itu ada di buku The Naked Traveler, deh.*

Senin, 23 Januari 2017

Enam : Percaya Aja Sama Dirimu!

~Direndahkan? berarti kita sedang tinggi. Diomong dari belakang? Berarti kita sedang di depan~



Aku adalah perempuan keras kepala yang jarang mau mengerti pemikiran orang lain. 
Aku hanya memikirkan tentang aku, tidak tentang orang-orang. 
Maka itu aku bisa menertawakan sesuatu yang orang lain anggap adalah sesuatu yang biasa saja. Atau aku akan menganggap sesuatu sangat penting walaupun menurut orang lain sangat remeh.
 Ketika perempuan lain memilih untuk mendengarkan dan mengikuti pemikiran orang lain, aku tidak. Aku bukan perempuan pembebek. Ah! Intinya aku ini antimainstream.

Walaupun demikian, sedih juga sih ketika aku menganggap sesuatu itu berharga, ternyata sama orang lain dianggap amat sangat remeh.

Punya pengalaman sama?

Jadi gini kisahku :

Tahun 2015 merupakan tahun aku produktif menulis. Yang paling sering itu, ikutan lomba. Yang bukan lomba juga kuikutin. Alhamdulillah, lima antologi cerpen bersama berhasil kuraih. Puncaknya, aku pernah meraih juara 1 pada sebuah lomba cerpen nasional. Serta masuk 20 cerpen terbaik pada even Sayembara Cerita Anak tingkat nasional.

Namun, ada saja orang-orang yang –gak tau deh bilangnya apa-.

Ada yang mencibir, “Oh, antologi bersama, toh. Kirain tunggal.” *gigit pulpen*
Ada juga yang komen, “Hadiahnya apa? Ha? Enggak ada? Yaah.”  *alihkan pembicaraan*
Atau bilang begini, “Kok buku terbitnya mesti dibeli, sih? Bukannya mestinya gratis? Penipuan itu!” *martil mana martil?*

Nah, yang lucu adalah ketika hadiah juara 1 berupa uang tunai dan sertifikat. Uang tunai udah sampe ke rekening (bahkan udah abis dibelanjain), barulah si sertifikat datang bersama pak pos. Lalu ada yang komen, “Yah, hadiahnya cuma beginian?” hehehe…dia gak tau uangnya udah buat kipas-kipas *sombong mode on*

Uniknya lagi ketika masuk 20 besar sayembara cerita anak. Aku urutan 20! Ketika ditanya urutan berapa? Hadiahnya apa? Aku diam aja sambil kasih piagam penghargaan yang diberikan oleh pihak Kementerian.

Menanggapi orang-orang demikian kita hanya perlu satu jurus, yaitu diam. Mereka tidak tahu proses yang telah kita jalani. Usaha agar nama kita tercantum dalam sebuah buku (bahkan untuk sebuah antologi bersama) sangat tidak mudah. Di luar sana banyak sekali para pemula yang siap bersinar dengan ide-ide anyar dan brilian, hanya saja yang mereka butuhkan adalah satu kesempatan untuk menunjukkan pada dunia. Yah paling tidak pada masyarakat Indonesia lah.
Maka percuma kalau kita jelaskan panjang lebar. Capek badan, capek pikiran.

Jurus ampuh lainnya adalah, sodorin even lomba, terus bilang, “Eh, ada lomba nih, ikutan yuk! Sapa tau kamu menang, lho!”

Memang sih, kita gak bisa mengatur orang untuk bicara apa, berpendapat bagaimana, bertanya apa. Namun sayangnya banyak orang-orang yang kurang peka hatinya, apakah pernyataannya itu bersifat konstruktif atau destruktif.

Makanya aku lebih suka memendam semua prestasi dan karya yang pernah kuraih, untuk kunikmati sendiri. And I don’t care what their said.
Udah gitu aja.

-Liya-

#KampusFiksi
#10DaysKF
#Day6