Kamis, 23 November 2017

Mbip : Lumba-lumba Bukan Ikan



Khalif alias Mbip, anak saya yang sulung, bisa baca (terbata-bata) sebelum lima tahun. Termasuk cepat di antara teman-temannya. Teman saya bilang penyebabnya adalah guru TK Khalif adalah bundanya sendiri. Hehehe. Bisa jadi.

Sebelum itu, karena masih anak satu, maka dialah sahabat saya 24 jam. Kami biasa bercerita tentang apa saja. Tentang bekicot yang selalu membawa rumahnya, atau tentang uang koin yang secara tidak sengaja tersangkut di tenggorokan Khalif. Aktifitas rutin kami sebelum tidur adalah mendongeng. Kadang cerita nusantara, cerita rakyat dari luar negeri, atau cerita yang saya karang sendiri. Hehehe.

Ketika Khalif punya adik kembar, bercerita sempat diambil alih abinya. Walaupun jarang, saya sesekali sempatkan untuk bercerita. Namun kala itu, materi cerita berubah jadi diskusi tentang hari itu. Main sama siapa? Main apa? Senang tidak? Semacam itulah. Ternyata tidak kalah seru.

Karena kehabisan ide cerita, saya belikan dia buku anak. Kesukaannya adalah buku tentang lumba-lumba yang masih ada sampai sekarang. Dari situ dia belajar baca sendiri. Dari situ juga dia tau kalau lumba-lumba bukan ikan. Dia ikut sedih waktu lihat foto hewan itu dalam air yang tercemar ^_^

Selanjutnya, seiring bertambah umur, semua buku dilahapnya.  Sama dengan saya, bundanya.
Buku kedua favoritnya tentang bedah forensik yang tersaji dalam bentuk kartun. Ada? Iya ada. Buku ini saya beli ketika Gramedia menggelar bazar buku (dapat di bagian buku serba limaribu). Buku inilah yang menginspirasinya bercita-cita menjadi dokter forensik. Hiyaa!

Menjelang ia dewasa, sebagian ‘buah’ sudah saya panen. Khalif tumbuh menjadi anak yang serba ingin tahu. Alhamdulillah, kognitifnya di atas rata-rata. Tetapi tetap saja saya tidak berorientasi kepada nilai. Saya tidak pernah menanyakan nilainya. Saya cuma tanya, senang tidak sama pelajaran itu? Kenapa senang? #maafkeun.

Kemudian, ia tumbuh menjadi anak yang terbuka (terutama kepada saya). Cita-cita  bundanya untuk menjadi tempat curhat anak saya mungkin sudah tercapai. Ia dengan leluasa bertanya tentang apa saja.

Kenapa harus saya ceritakan tentang ini?

Banyak orangtua ingin sekali anaknya pintar membaca di usia dini. Dikirimlah anak-anak ini ke sekolah TK dan sejenisnya dengan target, bisa baca ketika lulus. Salah? Tentu tidak jika prosesnya benar.

Konon, di negeri luar sana, mereka lebih takut anak-anak tidak pandai mengantri daripada tidak pandai membaca. Oh why? Karena belajar membaca sekarang sudah sangat mudah dengan segala aplikasi, game, gadget, dan sebagainya. Tetapi untuk membentuk pemahaman perlu waktu yang tidak sebentar.

Contoh paling konkrit : DILARANG BUANG SAMPAH DI SINI. Papan pengumuman itu berdiri di tengah lautan sampah yang kian hari kian menggunung. Apa mereka tidak bisa baca? Bisa kan?

Di sisi lain, orangtua itu malah tidak suka membaca. Bagaimana mungkin kita menyuruh anak melakukan sesuatu yang tidak pernah kita contohkan? Anak disuruh cepat baca, orangtua malas baca. 

Nah, bagi yang memiliki anak yang masih di bawah usia remaja, ada baiknya memulai kebiasaan membaca terutama bercerita sebelum tidur. Agar terjadi bonding alias ikatan psikis antara orangtua dan anak.
Belikan mereka buku-buku bergizi. Karena tidak semua yang ada di internet itu benar.

Nah, Khalif kemarin curhat. Bahwa ada dongeng yang sangat berkesan buatnya. Yaitu cerita tentang lelaki dan terompet ajaib. Judul aslinya saya nggak tau. Ada Hamelyn hamelyn-nya gitu. Ia bahkan masih ingat cara saya menceritakannya. Hebat euy! sangking berkesannya, ia masih ingat.

Oiya, hobi membaca sukses di rumah saya karena saya tidak punya tivi. Catat : tidak punya tivi. Untuk yang ini, akan saya ceritakan lagi besok-besok.

Tinggalkan komen berupa sharing atau tips lain yang bisa menambah semangat anak membaca, ya.

Thanks for reading. *BTW, jadi lumba-lumba itu apa dong? hayooo....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar