Sabtu, 21 Januari 2017

Empat : Ketika Akhirnya Mata Kita Beradu



~Dia yang Namanya Terpahat dalam Hati~

Tadi pagi baca cuitan unik. Katanya, kalau kita sudah berumur di atas 16 tahun, maka 60% kemungkinan kita sudah bertemu seseorang yang akan jadi pendamping kita. Mmm, menarik.

Aku sudah bertemu dengan beberapa orang hebat (walaupun bukan orang terkenal) dan orang-orang yang telah membuatku hebat. Dalam artian, mereka telah mengajakku ke  arah yang jauh lebih baik dari berbagai sisi kehidupan.

Di antara mereka yang luar biasa itu, ada satu orang yang sangat berarti buatku. Baiklah, karena tidak boleh menyebut nama, mari kita rahasiakan ia.

Pertama aku bertemu dengannya belasan tahun lalu, well, tidak terlalu menarik. Ia adalah seorang penjaga wartel yang cuek. Seorang yang sangat irit kata. Tidak pernah memandang mata dengan mata. Ia selalu menunduk atau melihat ke  arah lain.

Ia ternyata seorang yang menguasai bidang akuntansi, sebuah bidang yang pada waktu itu sedang kutekuni (walau akhirnya tidak berhasil). Dari sebuah obrolan ringan tentang hal remeh macam buku kas, buku ini, buku itu, segala macam buku yang ada di akuntansi, akhirnya kami mulai dekat. Dekat dalam arti kata sebagai abang-adik begitu lah.

Lama-lama, diskusi kami makin meningkat (minta tolong ngerjain tugas sebenarnya). Di situ aku tahu kalau jenis laki-laki ini sudah mulai langka di dunia. Masuklah namanya pada urutan nama-nama orang yang mungkin jadi pendamping hidup.

Dan, suatu hari. Datanglah tiga orang utusan. Menjumpai orangtuaku, lalu mengutarakan maksud dan tujuan mereka.
Maukah menikah dengan dia?

Mata bisa memilih kepada siapa ia ingin menatap. Tapi cinta, tidak bisa memilih di hati siapa ia akan singgah.

-Liya-

#KampusFiksi
#10DaysKF
#Empat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar