Pertanyaan yang agak
sulit saya terima ketika mengikuti KMO. Apa alasan untuk nulis? Begitulah,
kalau newbie alias pemula yang memulakan sesuatu sekadar iseng-iseng berhadiah.
Lalu saya merenung sebentar sambil flashback.
Menurut pendapat coach
Tendi, kita mesti meluruskan niat apa tujuan menjadi penulis. Segala hal yang
kita lihat dari sosok-sosok penulis papan atas ternyata adalah hanya
bonus-bonus. Mari kita lihat sosok Asma Nadia, Tere Liye, Andrea Hirata. Karya mereka
sarat makna dan pesan moral. Karya mereka adalah tentang kebaikan. Mari lihat
juga karya Charles Darwin, Karl Max, Peter The Venerabel. Karya mereka adalah
tentang perubahan (terlepas dari isinya ya).
Benar. Kalau mau tenar
langsung jadi artis saja.
Ada beberapa
keuntungan secara psikologis ketika menulis. Sebagai Mahmud –Mamah Muda-, yang
notabene adalah seorang perempuan (paling hobi ngomong), menulis merupakan
bentuk pemuasan hasrat atas ketidakmampuan saya untuk bicara 20.000 kata
sehari. Suami kerja, anak sekolah, lantas saya mesti bicara kepada siapa? Maka
dengan menulis, lunaslah 20.000 kata sehari (walaupun teori ini masih tanda
tanya). Menulis juga sekaligus sebagai ajang refreshing diri. Ketika menulis
(terutama fiksi), saya akan dengan murahnya mengunjungi belahan bumi yang tidak
bisa saya kunjungi. Mekah? Paris? Sabana Afrika? Bahkan zona konflik Gaza akan
dengan mudahnya hadir dalam bentangan mata.
Terlepas dari semua
itu, ada keuntungan yang mesti diraih dan dimakmurkan, yaitu keuntungan pada
kehidupan yang hakiki. Orientasi akhirat wajib dikedepankan daripada orientasi
dunia. Maka alasan untuk apa menulis
bisa kita sandarkan pada sebuah surat cinta dari Sang Mahacinta. Surat cinta
pertama dari Allah buat saya (dan seluruh muslim) adalah perintah untuk membaca
(saya suka sekali surat ini). Surat ini menggedor kesadaran berpikir akan siapa
diri kita, dari mana asal-usul kita, serta eksistensi Tuhan yang serba Maha.
Korelasi ke menulis?
Pada surat itu, juga diberitakan bahwa Tuhan mengajarkan manusia dengan
perantaraan kalam (pena). Sudah membaca lalu menulis. Indah sekali, bukan?
Maka sudah selayaknya setiap
penulis memiliki sikap bertanggung jawab atas apa yang telah ia tulis.
Sehingga, dapatlah
saya tarik benang merah alasan saya menulis tak lain adalah keinginan untuk
menyeru ke arah yang lebih baik. Karena saya tak punya harta dan bukan anak
raja. Saya juga tak pandai memanah dan tak kuat mengangkat pedang. Saya hanya
punya sebuah pena dan pemikiran yang perlu dituangkan. Hanya sebuah pena. Semoga
tetap istiqomah.
Dumai, 25 Mei 2016
Best Regards,
Eliya ‘Liya’ Tanjung
--------------------------------------------------------------
#KMO6A_01
Walau alasan semua penulis berbeda, memyeru ke arah yg baik menjadi pokoknya.....
BalasHapusNice mbak
BalasHapusThanks mas agung
HapusSEMANGAT bu eeeee,,,,, KEREN
BalasHapusMantap jeung..
BalasHapus